Skip to main content

Cash Loan

Urusan meminjam uang ke bank tentu telah jadi hal wajar bagi kebanyakan orang. Dari yang mulai meminjam untuk belanja barang layaknya rumah, mobil hingga meminjam untuk keperluan sehari-hari. Apakah meminjam di bank itu merugikan?

Tentu saja tidak merugikan jika Anda telah menyadari caranya mengatur keuangan Anda. Sebelum Anda meminjam di bank atau Lembaga peminjaman lainnya, Anda wajib cek kesehatan keuangan Anda. Jangan sampai Anda minjem uang tapi bingung cara balikin uangnya gimana. Langkah pertama sebelum Anda mengambil pinjaman adalah cek kesehatan keuangan Anda.

Kalau ngobrolin mengenai pinjaman, sebenernya telah ada yang mengetahui belum apa sih arti cash loan atau kredit ini?

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 tahun 1992 mengenai perbankan, berikut penjelasan mengenai kredit:

“Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang bisa disamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga.”

Nah jadi, saat ini Anda telah memahami apa sih itu kredit atau pinjaman. Dalam kredit, tentu Anda dapat berjumpa dengan bunga. Di Indonesia sendiri, kredit ini telah jadi produk unggulan dari perbankan dan masih banyak masyarakat yang menikmati produk ini.

 

Apakah Anda mengetahui bahwa pemberi jasa keuangan dibagi jadi 2, yakni Cash Loan dan Non-Cash Loan, berikut penjelasannya:

1. Cash Loan

Cash Loan atau kredit tunai ini adalah layanan kredit yang berbentuk penyediaan dana tunai yang dipindahbukukan ke rekening nasabah untuk digunakan sesuai dengan tujuan kreditnya.

Contoh dari cash loan ini sendiri adalah Kredit Modal Kerja (KMK), Kredit Investasi (KI), Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan kredit lainnya.

Dalam pembiayaan sendiri, tujuan utama mengadakan cash loan ini adalah untuk mendapat penghasilan bunga. Meskipun dalam kenyataannya, bank juga meraih penghasilan lainnya, layaknya Fee Based Income dari biaya administrasi, Biaya provisi dan biaya lainnya berkaitan proses dan pencairan kredit yang di terima bank.

 

2. Non-Cash Loan

Non-Cash Loan atau kredit non tunai ini merupakan pemberian garansi dibayar oleh bank jika nasabah mengalami default dalam transaksi atau pekerjaannya.

Contoh dari produk kredit non-cash loan adalah bank garansi, Letter of Credit impor, Surat Kredit Berdokumen Dalam Negeri (SKBDN), Foreign Exchange Credit Line, dan lain-lain.

Dalam pemberian layanan non-cash loan bank ini mempunyai tujuan untuk memperoleh fee based income dari biaya yang diperoleh dari pemberian layanan tersebut.

 

Kelebihan dan Kekurangan Cash Loan

Semakin berkembangnya teknologi, tentu saja semakin banyak fintech yang bermunculan. Salah satu fintech yang muncul adalah perusahaan yang menyediakan jasa pinjam-meminjam.

Nama perusahaan tersebut adalah Peer to Peer Lending atau ada juga yang cuma memberikan Lending. Kalau Peer to Peer Lending atau disingkat P2P Lending kebanyakan peminjam dan pemberi pinjaman berasal dari masyarakat.

Jadi, di P2P Lending punya dua arah, yakni lender dan investor. Tentu hal ini tidak serupa dengan Lending. Kalau Lending, cuma menyalurkan pinjaman tanpa terhubung asal modal pinjaman tersebut.

Kehadiran fintech ini sebenarnya memberikan angin segar untuk para entrepreneur menengah dan kecil. Tentu saja mereka mendapatkan kesusahan dalam mengajukan pinjaman ke bank.

Karena mengajukan pinjaman ke bank memakan waktu yang lama dan tentu saja harus ada aset yang dimiliki terutama dahulu. Dengan ada fintech lending maupun P2P lending ini, memberikan kemudahan bagi para pelaku bisnis kecil dan menengah.

Tanpa memakan waktu yang lama, cuma berselang harian, pinjaman yang diajukan pun telah bisa didapatkan. Selain itu, tidak ada proses yang berlarut-larut ini membuat fintech lending ini jadi berjaya. Apalagi prosesnya yang mudah, cuma perlu KTP saja, Anda telah bisa mengajukan pinjaman dan mendapat pinjaman.

Bayangkan, jika Anda ingin meminjam di bank, tentu prosesnya pun panjang dan tidak semudah di fintech lending. Karena kemudahannya ini, tidak jarang banyak masyarakat Indonesia yang memakai fintech lending ini, baik untuk keperluan bisnisnya dan untuk keperluan pribadinya.

Nah, kekeliruan pertama saat meminjam ke fintech lending ini adalah salah tujuan. Kebanyakan, masyarakat meminjam untuk mencukupi keperluan yang konsumtif. Padahal, pinjaman ini dapat lebih bijak digunakan untuk keperluan yang produktif, karena jika digunakan untuk keperluan yang konsumtif kebanyakan orang cuma berkhayal “gimana nanti” bukan “nanti gimana”.

Padahal, dibalik kemudahan itu, terkandung bunga yang tersembunyi dan kebanyakan tidak disadari oleh para peminjam dari P2P Lending ini. Sebenarnya, bunga yang terlihat ini cukup tinggi, kurang lebih 1% per harinya.

Kalau per hari sebenarnya kurang terasa, tapi ketika diakumulasi dalam 30 hari, maka sebenarnya bunga yang dikenakan per bulan bisa mencapai 30%. Jika kita bandingkan dengan bunga kartu kredit yang memberikan bunga 3% per bulan, atau misalkan KTA perbankan yang bisa mencapai 1-2% per bulannya. Tentu, bunga P2P lending ini sebenarnya cukup besar.

Apalagi jika pinjaman P2P lending ini digunakan untuk keperluan yang konsumtif, tentu bisa jadi berat kita membayar tagihan dari perusahaan P2P lending ini. Maka, tidak jarang jika banyak persoalan pinjaman online yang banyak nasabahnya kesusahan untuk membayarnya. Karena para nasabah kebanyakan tidak menyadari kemampuan keuangannya.